03 April 2011

Pemberi Kesempatan Sekaligus Pembunuh Sadis


Ditulis oleh: Agustantyono

Sejak mencoba belajar tentang pengembangan diri bertahun-tahun yang lalu, terkadang saya sering terheran-heran sendiri dengan tingkah laku saya di masa lalu, dimana ketika itu saya seringkali mengisi keseharian saya dengan hal-hal yang tidak begitu penting. Tidak jarang saat masih sekolah, saya sering mengisi waktu luang saya dengan nongkrong di warung, bermain games atau apapun itu yang sedikitpun hampir tidak memberikan nilai produktivitas bagi saya.
Terlebih saat mulai menyadari bahwa setiap dari kita diberikan waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Kalau coba dilakukan analisa dari 24 jam itu, berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk
istirahat? Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk nonton TV? Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mengobrol dengan kawan? dan yang paling penting, berapa banyak dari 24 jam itu yang benar-benar kita gunakan untuk mengupgrade diri kita dengan ilmu-ilmu yang bisa melejitkan potensi-potensi kita? Dan yang sangat ironis, ternyata kalau mau jujur ternyata dari 24 jam waktu kita, ternyata tidak lebih dari sepertiga waktu saja yang benar-benar kita gunakan efektif untuk mengembangkan diri kita. Lebih ironis lagi, ternyata ada yang mengakui hanya 1-2jam saja dalam sehari, bahkan ada yang mengatakan “tidak tentu mas”. Lah kalau kita hanya meluangkan 2 jam saja dalam sehari, terus kemana dong 22 jam yang sisanya. Itu saja kalau satu hari, cuma 22 jam yang tersisa entah kemana. Nah, kalau itu berlangsung terus selama 60 tahun, kira2 22jam dikalikan 60 tahun, waow betapa mubadzirnya hidup kita.
Tetapi Lain dulu, lain sekarang. Seringkali kalau tiba-tiba saya punya waktu luang dan saat itu juga kehilangan kekreatifan diri untuk mengisi sesuatu dengan hal yang positif, maka tangan saya pun spontan menjadi gatal dan tidak sabaran untuk segera mencari aktivitas yang bermanfaat. hehehe… Aneh memang, tapi itulah dinamika yang saya yakin juga banyak di antara rekan-rekan yang juga mengalami.
Coba kita bayangkan hidup kita setiap hari layaknya seorang penumpang taxi. Saat kita menjadi penumpang di dalamnya, ketika terjadi kemacetan dan taxi pun tidak bisa melaju dan harus berhenti terjebak macet, bagaimana respon anda? Marah kah? geram kah? sewot kah? iya pasti, karena biaya perjalanan taxi akan terus berjalan dan anda pasti akan sangat rugi biaya. Namun itulah yang sebenarnya terjadi ketika kita sering menghambur-hamburkan waktu kita dengan sesuatu yang tidak produktif, hanya saja saat kita hanya berdiam diri, menonton tv, mengobrol atau melakukan kegiatan lain, kita tidak ada biaya perjalanan yang kongkrit harus kita bayarkan seperti seorang penumpang taxi.
Untuk itu, ketika kita memang bisa memanfaatkan waktu dengan baik, maka yakinlah bahwa waktu itu akan menjadi pintu rezeki yang luar biasa bagi kita, namun sebaliknya ketika kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan maksimal maka yang terjadi sang waktu itu akan menjadi pembunuh terkejam buat diri kita :)

No comments:

Post a Comment